Monday, 11 January 2016

KEWARAKAN IMAM SYAFIE


Imam Syafie rahimahullah adalah seorang Imam Mujtahid yang dianugerahkan oleh Allah dengan hafalan yang kuat. Suatu hari hafalannya agak kurang memberangsangkan, maka dia bertanya kepada ibunya "Wahai Ibu, apa yang telah engkau masak untuk ku makan?", dijawab oleh ibunya "aku memasak daging lembu untuk makananmu", ditanya lagi kepada ibunya" dari mana dapat duit untuk membeli daging?", dijawab oleh ibunya 'dari upah aku menjahit pakaian", ditanya lagi "di pasar mana ibu membeli daging?", maka dikhabarkan oleh ibunya pasar dia membeli daging. Lalu Imam Syafie rahimahullah pergi ke pasar tersebut dengan melihat cara penyembelihan lembu, Alhamdulillah, semuanya mengikut syarak, lalu ditanya kepada sipenjual daging "dari mana ladang ternakan lembu Tuan?", maka dikhabarkan oleh sipenjual daging. Lalu Imam Syafie rahimahullah pergi melihat sendiri ladang ternakan dan didapatinya ada beberapa ekor lembu yang telah meragut rumput yang bukan milik tuannya. Secara spontan Imam Syafie rahimahullah mengeluarkan dan memuntahkan semua yang dimakan kerana merasakan asbab dari itu menyebabkan kurang hafalannya.

Lihatlah betapa waraknya Ulama terdahulu menjaga makan, adapun kita pada hari ini yang mengaku lebih baik dari Ulama terdahulu tak banyak tanya, semuapun kita telan. Imam Syafie rahimahullah juga terus beristigfar apabila ada kain seorang wanita yang terselak yang menampakkan betis wanita tersebut, adapun kita pada hari, semuapun kita lihat, jauh sangatlah kita yang mengaku hebat dengan ilmu sehingga sanggup nak mempersendakan Ulama-Ulama terdahulu.

PERMINTAAN NABI ADAM AS DAN IBLIS


Ketika Nabi Adam AS dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi karena melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah dari pohon kayu (Iblis menyebutkannya buah khuldi, buah keabadian), ia berkata, “Wahai Allah, inilah dia iblis, yang Engkau telah menjadikan dia sebagai musuh bagiku, permusuhan yang tiada habisnya. Jika Engkau tidak menolongku untuk melawannya, nescaya aku tidak akan mampu melawannya…!!”
Maka Allah berfirman, “Tidak dilahirkan seorang anak bagimu, melainkan seorang malaikat telah diwakilkan kepadanya.”
Nabi Adam berkata, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku!”
Allah berfirman, “Sesungguhnya satu keburukan yang dilakukan anak keturunanmu akan Aku balas dengan satu keburukan, sedangkan satu kebaikan yang dilakukannya akan Aku balas dengan sepuluh kebaikan, atau akan Aku lebih lipat gandakan sebanyak yang Aku kehendaki.”
Nabi Adam berkata lagi, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah aku!”
Allah berfirman, “Pintu taubat akan selalu terbuka bagi anak keturunanmu, selama ruh masih melekat pada jasadnya.”
Mendengar permintaan Nabi Adam tersebut, Iblis segera mengajukan permintaan juga. Ia berkata, “Wahai Tuhanku, inilah dia seorang hamba, yang Engkau telah memuliakannya di atasku, jika Engkau tidak menolongku untuk menghadapinya, nescaya aku tidak mampu mengalahkannya”
Allah berfirman, “Tidak dilahirkan seorang anak bagi Adam, melainkan dilahirkan pula seorang anak bagimu.”
Iblis berkata lagi, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku!”
Allah berfirman, “Engkau berjalan pada mereka pada beredarnya darah, dan engkau boleh menjadikan hati mereka sebagai rumah-rumahmu.”
Ia berkata lagi, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah untukku!”
Maka Allah berfirman kepada Iblis, “Dan pujuklah (goda) siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikanlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.”
Sumber : Kitab Ihya Ulumuddin Karangan Imam Ghazali

Wednesday, 23 December 2015

KISAH SAAT KEMATIAN RAJA YANG SOMBONG DAN PEMUDA YANG SOLEH


Ada seorang raja yang berniat melihat-lihat kerajaannya. Dia meminta sebuah pakaian kepada pengawalnya. Perintahnya segera dituruti, tetapi dia tidak suka dengan pakaian yang dibawakan dan memerintahkan untuk mengambil pakaian yang lainnya. Akhirnya dia memilih baju terbaik. Kemudian tiga kuda dibawa kehadapannya, tetapi akhirnya dia memilih kuda yang terakhir. Syaitan terkutuk telah mengisi fikirannya dengan kesombongan. Dia menaiki kudanya dengan sikap angkuh. Rombongan dan pasukan tentera menyertainya, tetapi kerana kesombongannya, dia tidak peduli bahkan sekadar menoleh kepada mereka.

Di tengah perjalanan, Raja bertemu dengan seorang laki-laki dengan  berpakaian compang-camping. Lelaki itu memberi salam kepada Raja, tapi raja tidak menjawabnya. Lelaki itu kemudian memegang kuda Raja. Raja memarahinya atas kekurang ajarannya itu dan memerintahkannya untuk melepaskan tangannya. Dia menyampaikan bahwa dia ada urusan dengan Raja. Raja memerintahkannya menunggu, tapi ia bersikap keras hendak berbicara kepada Raja saat itu juga. Raja akhirnya mengizinkan ia berbicara. Dia memberi tahu bahwa dia akan mengungkapkan sebuah rahasia. Raja mendekatkan telinganya kepada orang itu. Lelaki itu berkata bahwa malaikat maut telah datang untuk menyerahkan nyawanya kepada Tuhan.

Segera setelah mendengar itu, wajah Raja segera pucat dan ia mulai gugup. Setelah beberapa saat, Raja meminta malaikat maut untuk menunda pencabutan nyawanya dan mengizinkannya pulang untuk menyelesaikan urusan-urusannya dan bertemu semua anggota keluarganya. Malaikat maut berkata bahwa dia tidak dapat memberinya waktu lagi. Artinya, Raja tidak dapat pulang dan menyelesaikan urusan-urusannya.  Setelah berkata demikian, malaikat maut segera melaksanakan tugasnya dan jatuhlah Raja dari kudanya.

Selanjutnya, malaikat maut mendekati seorang muslim yang soleh yang juga sedang melakukan perjalanan. Malaikat memberi salam kepada muslim yang soleh itu. Malaikat maut lalu mengungkapkan identitinya. Orang soleh itu segera memberi sambutan hangat dan berkata bahwa kedatangan malaikat itu sangat menggembirakannya, kerana ia telah lama menanggung derita perpisahan dengan Allah dan mendambakan bertemu dengan-Nya dibanding siapapun. Malaikat maut menawarkannya untuk menyelesaikan dulu tugasnya yang dianggap penting. Si muslim berkata bahwa dia tidak merindukan siapapun selain bertemu Tuhan. Malaikat maut menawarkannya untuk memilih keadaan yang diinginkannya saat meninggal dunia. Orang itu bertanya kepada malaikat maut apakah dia telah diberi kuasa demikian. Malaikat maut memmbenarkannya. Orang soleh itu pun meminta malaikat mengizinkannya solat dan mencabut nyawanya saat dia sujud. Dan demikianlah, ketika orang soleh itu sujud, malaikat mencabut nyawanya.

Sumber : Kitab Thaharah Al Qulub Wa Al Khudu Li Allam Al Ghuyub Karangan Syeikh Abd Al Aziz Al Darini

KISAH PEMUDA KACAK DI BUANG DAERAH


Keputusan Saidina Umar r.a. membuang daerah seorang pemuda di Madinah yang bernama Nasr bin Haliaj.

Pemuda ini memiliki rupa paras yang amat kacak sehingga mempesonakan semua gadis di kota suci itu.

Mulanya Umar r.a mengarahkan pemuda itu dicukur. Namun, rupa parasnya masih lagi cantik.

Akhirnya dia dibuang daerah ke Basrah, Iraq. Pada hemat Saidina Umar r.a., jika pemuda tersebut masih dibiarkan berada di Madinah, kemungkinan besar gadis-gadis lain turut terpesona dengan kekacakannya.

Ini suatu fitnah yang besar terutama di kota suci Madinah.

Berlainan sekiranya kalau pemuda itu di Basrah sebab beliau dikira terasing di tempat orang.

Sumber : Dr Abdul Aziz Hanafi

Saturday, 28 November 2015

VIDEO 3D MAKAM SEBENAR RASULLULLAH DI MASJID NABAWI


Makam (pusara) Rasullullah SAW terletak di sebelah Timur Masjid Nabawi. Di tempat ini dahulu terdapat dua rumah, iaitu rumah Rasulullah SAW bersama Aisyah dan rumah Ali dengan Fatimah. Sejak Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 H (632 M), rumah Rasullullah SAW terbagi dua. Bahagian Selatan untuk makam Rasulullah SAW dan bahagian Utara untuk tempat tinggal Aisyah. Sejak tahun 678 H. (1279 M) di atasnya dipasang Kubah Hijau (Green Dome). Dan sampai sekarang Kubah Hijau tersebut tetap ada. Jadi tepat di bawah Kubah Hijau itulah lokasi bernama hujrah al-musyarrafah atau kamar yang dimuliakan di mana jasad Rasullullah SAW dimakamkan oleh keluarga Baginda. Di situ juga dimakamkan kedua sahabat, Abu Bakar (Khalifah Pertama) dan Umar (Khalifah Kedua) yang dimakamkan berdampingan dengan makam Rasulullah SAW. Video di bawah menunjukkan makam sebenar rasulullah.




Atau boleh lihat video itu di sini

Thursday, 19 November 2015

KISAH NABI IBRAHIM DAN SEEKOR KATAK


Diriwayatkan di dalam Sahih Bukhari, ketika Nabiyullah Ibrahim As. dilemparkan ke apinya Namrud maka Nabiyullah Ibrahim mengucapkan “Hasbiyallahu wani’mal wakiil”, Cukup bagiku Allah dan semulia-mulia tempat untuk bertawakkal.

Kalimat agung dari jiwa yang mulia ini merubah api sehingga turunlah firman Allah yang berbunyi “Kuuniy bardan wasalaaman ‘ala ibrahim”, jadilah sejuk dan dingin dan membawa kesejahteraan kepada Ibrahim wahai api. (al-Anbiya’ ayat 69).

Jadilah engkau wahai api sejuk dan membawa kesejahteraan bagi Ibrahim. Allah sudah ciptakan sifat api itu panas dan membakar sesuatu yang menyentuhnya, tapi Allah balikkan ketentuanNya kerana jiwa yang bermunajat, jiwa yang berdoa, jiwa yang mulia dengan Cahaya Allah Swt. Berbalik keadaan api menjadi sejuk.

Demikian indahnya sanubari dan jiwa yang memuliakan Allah, semakin besar kemuliaan Allah di dalam hatinya maka semakin ia membawa kemuliaan dalam kehidupan, bagi dirinya dan bagi sekitarnya.

Allah Swt. mengikat erat jiwa dan sanubari yang terikat pada para solihin. Dan bicara mengenai Nabi Ibrahim, sedemikian mulianya. Bukan untuk Nabi Ibrahim sendiri tapi orang-orang dan siapa pun yang mencintai Nabi Ibrahim As. turut termuliakan.

Diriwayatkan di dalam Syi’bul Iman oleh al-Imam Baihaqi, juga di dalam Tafsir Imam al-Qurthubi, ketika seekor katak tidak tahan melihat Nabi Ibrahim hendak dibakar oleh Raja Namrud, (padahal) tidak mampu berbuat apa-apa, ia hanya menaruh air di mulutnya. Berapakah besar mulutnya katak untuk memadamkan apinya Nabi Ibrahim? (Api menyala) lebih besar dari bukit, Katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat dan menyemburkan air itu ke api. Tidak berguna perbuatan katak itu, tidak akan dapat memadamkan api, tapi Yang Maha Melihat, (tetap) melihat!

Allah Swt. melihat jiwa seekor katak yang kecil yang tidak dilihat oleh makhluk lainnya.

Allah Swt. tahu niat dari hambaNya yang kecil itu. Cintanya kepada Nabiyullah Ibrahim dan niatnya menyelamatkan Nabi Ibrahim (padahal Nabi Ibrahim sudah dilindungi oleh Allah) maka Allah mengharamkan katak untuk dibunuh sampai akhir zaman. Semua katak, padahal ini perbuatan satu saja. Yang berbuat satu, semua katak sampai akhir zaman haram dibunuh.

Sampai diriwayatkan lebih dari 20 hadis, pelarangan Nabi Saw. membunuh katak, sehingga para sahabat datang kepada Rasul Saw. mengajukan pertanyaan: “Ada katanya jenis ubat tapi diambil dari katak, harus membunuh katak?” Rasulullah Saw. melarangnya: “Jangan jadikan perubatan dari katak.” Kenapa? kerana katak dilindungi sampai akhir zaman. Kenapa? satu diantaranya pernah ingin menyelamatkan Nabi Ibrahim As.

Lihatlah betapa Allah menghargai keinginan mulia, walaupun tidak mampu berbuat apa-apa, walaupun tidak mampu merubah keadaan, tetapi hal itu dihargai oleh Allah dan dilihat.

Lebih-lebih lagi orang-orang yang mencintai Sayyidina Muhammad Saw., Pemimpin Para Nabi dan Rasul. Dan orang-orang yang membantu apa-apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah Saw.

Barangkali perbuatannya tidak bererti, tapi itu usaha yang dihargai oleh Allah Swt. Wallahu`alam

(Saduran Tausiyah Sayyidil Habib Mundzir Al-Musawa)

SAYIDINA UMAR DAN PENGEMBALA KAMBING


Pada zaman pemerintahan Saidina Umar Al-Khattab, ada seorang pemuda yang bekerja sebagai pengembala kambing. Pemuda tersebut adalah seorang hamba sahaya yang amanah dan jujur. Kedua-dua orang tuanya telah meninggal dunia, dan dia hidup sebatang kara, yatim piatu serta hamba sahaya pula.

Setiap hari pemuda tersebut mendaki bukit bakau dan merentasi padang rumput untuk menghalau kambing-kambing milik majikannya dari satu lembah ke satu lembah lain. Dia menjaga kambing-kambing tersebut dengan baik dan amanah seolah-olah kambing kepunyaan sendiri.

Kemudian, suatu hari  Amirul Mukminin Umar bin Khattab ditemani Abdullah bin Dinar berjalan bersama dari Madinah menuju Makkah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran si anak gembala itu. Khalifah Umar pun mendekati pemuda pengembala itu, seraya berkata: " Sungguh banyak kambing yang kamu pelihara, lagi pula sangat bagus dan gemuk-gemuk semuanya. Oleh karena itu kamu juallah kepadaku. Saya menginginkan seekor darinya yang gemuk dan bagus."

Mendengar kata-kata demikian, pengembala tersebut menjawab: "Kambing-kambing ini bukanlah milik saya, tetapi milik majikan saya. Saya hanyalah seorang hamba dan pengembala yang mengambil upah saja."
Umar bin Khattab berkata lagi, ''Katakan saja nanti pada tuanmu, kambing itu dimakan serigala.''

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, ''Fa ainallah?''… ''Fa ainallah?''…(Dimana Allah? Dimana Allah?”) anak itu mengulang-ulang. (Kurang lebih maknanya adalah, ''''Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?"")

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, kagum, sekaligus bahagia memiliki rakyat yang taat kepada Allah SWT.

Seketika, Umar bin Khattab pun menangis dan mendakap anak itu. Kemudian beliau minta ditunjukan rumah majikannya. Tak lama, Umar bin Khattab membeli anak gembala itu dan kambing-kambingnya dari majikannya. Lalu, dia memerdekakan anak gembala itu dan menghadiahkan seluruh kambing itu sebagai balasan atas sifat amanah dan keimanannya.