Monday, 7 July 2014

SIRAH NABI : KHABBAB BIN ARATS GURU DALAM ILMU DAN PENGORBANAN


Khabbab bin Arats adalah seorang pandai besi yang ahli membuat alat-alat senjata, terutama pedang. Senjata dan pedang buatannya dijualnya kepada penduduk Makkah dan dikirimnya ke pasar-pasar.

Sejak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Khabbab pun mendapatkan kedudukan yang tinggi di antara orang-orang yang tersiksa dan teraniaya. Ia mendapat kedudukan itu di antara orang-orang yang walau pun miskin dan tak berdaya, tetapi berani dan tegak menghadapi kesombongan, kesewenangan dan kegilaan kaum Quraisy.

Dan dengan keberanian luar biasa, Khabbab memikul tanggung jawab semua itu sebagai seorang perintis.

Sya’bi berkata, "Khabbab menunjukkan ketabahannya, hingga tak sedikit pun hatinya terpengaruh oleh tindakan biadab orang-orang kafir. Mereka menindihkan batu membara ke punggungnya, hingga terbakarlah dagingnya.”

Kafir Quraisy telah merubah semua besi yang terdapat di rumah Khabbab yang dijadikannya sebagai bahan baku untuk membuat pedang, menjadi belenggu dan rantai besi. Lalu mereka masukkan ke dalam api hingga menyala dan merah membara, kemudian mereka lilitkan ke tubuh, pada kedua tangan dan kedua kaki Khabbab. 

Pernah pada suatu hari ia pergi bersama kawan-kawannya sependeritaan menemui Rasulullah SAW, bukan kerana kecewa dan kesal atas pengorbanan, hanyalah kerana ingin dan mengharapkan keselamatan.

Mereka berkata,"Wahai Rasulullah, tidakkah anda hendak memintakan pertolongan bagi kami?"

Rasulullah SAW pun duduk, mukanya jadi merah, lalu sabdanya: "Dulu sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga tidak dapat menggoyahkan keimanannya. Sungguh Allah akan menyempurnakan hal tersebut, hingga setiap pengembara yang pergi dari Shana’a ke Hadlramaut, tiada takut kecuali pada Allah Azza wa Jalla."

Khabbab dengan kawan-kawannya mendengarkan kata-kata itu, bertambahlah keimanan dan keteguhan hati mereka. Dan masing-masing berikrar akan membuktikan kepada Allah dan Rasul-Nya hal yang diharapkan dari mereka, ialah ketabahan, kesabaran dan pengorbanan.

Demikianlah, Khabbab menanggung penderitaan dengan sabar, tabah dan tawakkal. Orang-orang Quraisy terpaksa meminta bantuan Ummi Anmar, yakni bekas majikan Khabbab yang telah membebaskannya dari hamba. Wanita tersebut akhirnya turun tangan dan turut mengambil bagian dalam menyiksa dan menderanya.

Wanita itu mengambil besi panas yang menyala, lalu menaruhnya di atas kepala dan ubun-ubun Khabbab, sementara Khabbab menggeliat kesakitan. Tetapi nafasnya ditahan hingga tidak keluar keluhan yang akan menyebabkan pendera-pendera tersebut merasa puas dan gembira.

Pada suatu hari Rasulullah SAW lalu di hadapannya, sedang besi yang membara di atas kepalanya membakar dan menghanguskannya. Hingga kalbu Rasulullah pun bagaikan terangkat kerana pilu dan hiba hati. Rasulullah kemudian berdoa, "Ya Allah, limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab!"

Dan kehendak Allah pun berlakulah, selang beberapa hari, Ummi Anmar menerima hukuman qishas. Seolah-olah hendak dijadikan peringatan oleh Yang Maha Kuasa baik bagi dirinya maupun bagi pendera-pendera lainnya. Ia diserang oleh semacam penyakit panas yang aneh dan mengerikan. Menurut keterangan ahli sejarah ia melolong seperti anjing.

Dan orang memberi nasihat bahwa satu-satunya jalan atau ubat yang dapat menyembuhkannya ialah menyeterika kepalanya dengan besi menyala. Demikianlah, kepalanya yang angkuh itu menjadi sasaran besi panas, yang disetrikakan orang kepadanya tiap pagi dan petang

Jika orang-orang Quraisy hendak mematahkan keimanan dengan siksa, maka orang-orang beriman mengatasi siksaan itu dengan pengorbanan. Dan Khabbab adalah salah seorang yang dipilih oleh takdir untuk menjadi guru besar dalam ilmu tebusan dan pengorbanan. Boleh dikata seluruh waktu dan masa hidupnya berbakti untuk agama yang panji-panjinya mulai berkibar.

Di masa-masa dakwah pertama, Khabbab. tidak merasa cukup dengan hanya ibadah dan sholat semata, tetapi ia juga memanfaatkan kemampuannya dalam mengajar. Didatanginya rumah sebagian temannya yang beriman dan menyembunyikan keislaman mereka keran takut kekejaman Quraisy, lalu dibacakannya kepada mereka ayat-ayat Alquran dan diajarkannya. Ia mencapai kemahiran dalam belajar Alquran yang diturunkan ayat demi ayat dan surat demi surat. 

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan mengenai dirinya, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barang siapa ingin membaca Alquran tepat sebagaimana diturunkan, hendaklah ia meniru bacaan Ibnu Ummi Abdin (Khabbab bin Arats)!"

Hingga Abdullah bin Mas’ud menganggap Khabbab sebagai tempat bertanya mengenai soal-soal yang bersangkut paut dengan Alquran, baik tentang hafalan maupun pelajarannya.

Khabbab adalah juga yang mengajarkan Alquran kepada Fatimah binti Khatthab dan suaminya Sa’id bin Zaid ketika mereka diugut oleh Umar bin Khatthab yang datang dengan pedang di pinggang untuk membuat perhitungan dengan agama Islam dan Rasulullah SAW. 

Khabbab bin Arats menyertai Rasulullah SAW dalam semua peperangan dan pertempurannya, dan selama hayatnya ia tetap membela keimanan dan keyakinannya. Dan ketika Baitul Mal melimpah-ruah dengan harta kekayaan di masa pemerintahan Umar dan Utsman RA, maka Khabbab beroleh gaji besar, kerana termasuk golongan Muhajirin yang mula pertama masuk Islam.

Penghasilannya yang cukup ini memungkinkannya untuk membangun sebuah rumah di Kufah, dan harta kekayaannya disimpan pada suatu tempat di rumah itu yang dikenal oleh para shahabat dan tamu-tamu yang memerlukannya. Hingga bila di antara mereka ada sesuatu keperluan, ia dapat mengambil wang yang diperlukannya dari tempat itu.

Walaupun demikian, Khabbab tak pernah tidur nyenyak dan tak pernah air matanya kering setiap teringat akan Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang telah membaktikan hidupnya kepada Allah. Mereka beruntung telah menemui-Nya sebelum pintu dunia dibukakan bagi kaum Muslimin dan sebelum harta kekayaan diserahkan ke tangan mereka.

Ketika para sahabatnya datang menjenguk ketika ia sakit, mereka berkata, "Senangkanlah hati anda wahai Abu Abdillah, kerana anda akan dapat menjumpai teman-teman sejawat anda."

Khabbab berkata sambil menangis, "Sungguh, aku tidak merasa kesal atau kecewa, tetapi kalian telah mengingatkanku kepada para sahabat dan sanak saudara yang telah pergi mendahului kita dengan membawa semua amal bakti mereka, sebelum mereka mendapatkan ganjaran di dunia sedikit pun juga. Sedang kita masih tetap hidup dan beroleh kekayaan dunia, hingga tak ada tempat untuk menyimpannya lagi kecuali tanah."

Kemudian Khabba menunjuk rumah sederhana yang telah dibangunnya itu, lalu ditunjuknya pula tempat untuk menaruh harta kekayaannya. "Demi Allah, tak pernah saya menutupnya walau dengan sehelai benang, dan tak pernah saya menghalangi siapa pun yang meminta," ujarnya.

Dan setelah itu ia menoleh kepada kain kafan yang telah disediakan orang untuknya. Maka ketika dilihatnya mewah dan berlebih-lebihan, air matanya mengalir. "Lihatlah ini kain kafanku. Bukankah kain kafan Hamzah bapa saudara Rasulullah SAW ketika gugur sebagai salah seorang syuhada, hanyalah burdah berwarna abu-abu, yang jika ditutupkan ke kepalanya terbukalah kedua ujung kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke ujung kakinya, terbukalah kepalanya?"

Khabbab berpulang pada tahun 37 Hijriyah. Dengan demikian, si pembuat pedang di masa jahiliyah telah tiada lagi. Demikian halnya guru besar dalam pengabdian dan pengorbanan dalam Islam telah pulang.

SIRAH NABI : ABU MUSA AL-ASY'ARI HAKIM UMAT MUHAMMAD


Tatkala Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab mengirimnya ke Bashrah untuk menjadi panglima dan gabenor, Abu Musa Al-Asy'ari mengumpulkan para penduduk, dan berpidato di hadapan mereka. "Sesungguhnya Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab telah mengirimku kepada kamu sekalian, agar aku mengajarkan kepada kalian kitab Allah dan Sunnah Nabi kalian, serta membersihkan jalan hidup kalian!"

Orang-orang heran dan bertanya-tanya. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud dengan mendidik dan mengajari mereka tentang agama, yang memang kewajiban gabenor dan panglima. Tetapi bahwa tugas gabenor itu juga membersihkan jalan hidup mereka, hal ini memang amat mengherankan dan menjadi suatu tanda tanya.

Siapakah kiranya gabenor ini, yang mengenai dirinya Hasan Al-Bashri pernah berkata, "Tak seorang pun yang datang ke Bashrah yang lebih berjasa kepada penduduknya selain dia!"

Ia adalah Abdullah bin Qais dengan gelar Abu Musa Al-Asy'ari. Ia segera meninggalkan negeri dan kampung halamannya, Yaman, menuju Makkah setelah mendengar munculnya seorang Rasul yang menyerukan tauhid. Dan menyerukan ibadah kepada Allah berdasarkan pengertian, serta menyuruh berakhlak mulia.

Di Makkah, waktunya dihabiskan untuk duduk di hadapan Rasulullah, menerima petunjuk dan keimanan darinya. Lalu pulanglah ia ke negerinya membawa kalimat Allah. Ia baru kembali kepada Rasulullah SAW tidak lama setelah selesainya pembebasan Khaibar.

Kali ini, Abu Musa tidak datang seorang diri, tetapi membawa lebih dari 50 orang laki-laki penduduk Yaman yang telah diajarinya tentang agama Allah, serta dua orang saudara kandungnya; Abu Ruhum dan Abu Burdah.

Rasulullah bahkan memberi nama kaum mereka dengan sebutan golongan "Asy'ari", serta dilukiskannya bahwa mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya di antara sesama. Mereka sering diambil sebagai tamsil perbandingan bagi para sahabat.

Rasulullah bersabda, "Orang-orang Asy'ari ini bila mereka kekurangan makanan dalam peperangan atau ditimpa sesuatu, maka mereka kumpulkan semua makanan yang mereka miliki pada selembar kain, lalu mereka bagi rata. Mereka termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka."

Mulai saat itu, Abu Musa pun menempati kedudukan yang tinggi di kalangan kaum Muslimin. Ia ditakdirkan menjadi sahabat Rasulullah dan muridnya, serta menjadi penyebar Islam ke seluruh dunia.

Abu Musa merupakan gabungan yang istimewa dari sifat-sifat utama. Ia seorang prajurit yang gagah berani dan pejuang bila berada di medan perang. Namun ia juga seorang pahlawan perdamaian, peramah, dan tenang. Keramahan dan ketenangannya mencapai batas maksima.

Abu Musa adalah seorang ahli hukum yang cerdas dan berpikiran sehat, yang mampu mengerahkan perhatian mencapai kunci dan pokok persoalan, dan gemilang dalam berfatwa. Sehingga ada yang berkata, "Qadhi atau hakim umat ini ada empat orang; Umar, Ali, Abu Musa dan Zaid bin Tsabit."

Di arena peperangan, Abu Musa Al-Asy'ari memikul tanggung jawab dengan penuh keberanian, hingga Rasulullah SAW pernah berkata mengenai dirinya, "Pemimpin dari orang-orang berkuda adalah Abu Musa."

Dalam medan tempur melawan empayar Persia, Abu Musa Al-Asy'ari mempunyai saham dan jasa besar. Bahkan dalam pertempuran di Tustar, yang dijadikan Hurmuzan sebagai benteng pertahanan terakhir, Abu Musa Al-Asy'ari menjadi pahlawan dan bintang lapangan.

Adapun dalam pertentangan dengan sesama Muslim, ia mengundurkan diri dan tak ingin terlibat di dalamnya. Pendiriannya ini jelas terlihat dalam perselisihan antara Ali dan Muawiyah.

Abu Musa Al-Asy'ari adalah orang kepercayaan dan kesayangan Rasulullah SAW, juga menjadi kepercayaan dan kesayangan para khalifah dan sahabat-sahabatnya.

Ketika Rasulullah masih hidup, beliau mengangkatnya bersama Mu'adz bin Jabal sebagai penguasa di Yaman. Dan setelah Rasulullah wafat, ia kembali ke Madinah untuk memikul tanggungjawab dalam jihad besar yang sedang dijalani oleh tentera Islam melawan Persia dan Rom.

Pada pemerintahan Umar bin Al-Khathab, ia diangkat sebagai gabenor di Bashrah. Sedangkan Khalifah Utsman bin Affan menunjuknya sebagai gabenor di Kufah.

Abu Musa termasuk ahli Al-Qur'an; menghafal, mendalami dan mengamalkannya. Di antara ucapan-ucapannya yang memberikan bimbingan mengenai Al-Qur'an itu ialah, "Ikutilah Al-Qur'an... dan jangan kalian berharap akan diikuti oleh Al-Qur'an!"

Ia juga termasuk ahli ibadah yang tabah. Pada waktu siang di musim panas yang panasnya menyesakkan nafas tidak menghalanginya untuk berpuasa. "Semoga rasa haus di terik siang ini akan menjadi pelepas dahaga bagi kita di hari kiamat nanti," ujarnya.

Di hari yang cerah, ajal pun menjemputnya. Wajahnya menyinarkan cahaya cemerlang, wajah seorang yang mengharapkan rahmat dan pahala Allah. Kalimat yang selalu diulang-ulang dan menjadi buah bibirnya sepanjang hayatnya adalah kalimat yang juga menjadi buah bibirnya ketika menghadap Ilahi. "Ya Allah, Engkaulah Maha Penyelamat, dan dari-Mu lah ku mohon keselamatan."

Tuesday, 1 July 2014

KISAH NABI SULAIMAN DAN ANAK SOLEH


Nabi Sulaiman adalah anak kepada Nabi Daud A.S. Sejak kecil lagi Nabi Sulaiman sudah pandai memberi pendapat yang adil dalam satu-satu hal. Setelah wafatnya Nabi Daud, Nabi Sulaiman membesarkan kerajaan di bawah pimpinannya. Pada suatu hari, Nabi Sulaiman mengadakan perjalanan bersama rombongannya yang terdiri daripada manusia dan jin. Tujuannya adalah untuk melihat kebesaran Allah S.W.T.

Perjalanan mereka pun tiba di tepi laut, tiba-tiba Nabi Sulaiman terpandang suatu benda yang menakjubkan di dalam laut. Dia memerintahkan pada jin Ifrit, “Wahai Ifrit, cuba kamu lihat ke dalam laut, ada suatu benda yang menakjubkan aku, oleh itu kamu bawakan ia kemari”. Jin Ifrit yang sememangnya gagah tak banyak bercakap kerana takut akan murka Nabi Sulaiman dan terus menyelam ke dasar laut, namun dia tidak berjumpa apa-apa.

Kemudian Nabi Sulaiman menyuruh jin yang lain menyelam untuk mendapatkan benda terbabit, namun malangnya jin tersebut pun gagal berbuat demikian. Akhirnya Nabi Sulaiman pun berkata kepada Ashif bin Barkhiya, yakni orang yang mendapat ilmu terus dari Allah, “Sekarang aku perintahkan kepadamu agar pergi ke laut dan dapatkan benda ajaib yang aku maksudkan”. Ashif bin Barkhiya pun menyelam dan terlihat suatu benda yang menyerupai kubah yang diperbuat dari kapur putih.

Dengan kekuatan yang luar biasa, Ashif bin Barkhiya membawa naik kubah ajaib tersebut dari dasar laut dan mempersembahkan kepada Nabi Sulaiman. Apabila Nabi Sulaiman melihat kubah itu dan berkata, “Wah, alangkah indahnya benda ini, tapi mengapakah aku tidak dapat melihat isi kandungan dalam benda ini padahal Allah telah memberikan mukjizat yang mana penglihatanku dapat menembusi segala sesuatu”.

Nabi Sulaiman pun berdoa kepada Allah supaya dia dapat melihat isi di dalam kubah berkenaan dan Allah memperkenankan doanya. Sejurus selepas berdoa, maka terbukalah kubah tersebut dan Nabi Sulaiman melihat ada seorang pemuda yang sedang sujud dan bertasbih memuji Allah. Nabi Sulaiman lalu berkata, “Maha suci Allah lagi Maha Besar”. Mendengar seruan Nabi Sulaiman, maka pemuda itu pun bangun dari sujud lalu memberi salam.

Nabi Sulaiman menjawab salam dan memulakan pertanyaan, “Siapakah kamu wahai pemuda! Adakah kamu malaikat, jin atau pun manusia?” Jawab pemuda itu, “Aku hanyalah seorang manusia biasa”. Nabi Sulaiman bertanya lagi, “Apakah yang membuat kamu memperolehi kemuliaan sedemikian rupa? Apakah amal yang pernah engkau kamu lakukan sehingga Allah menurunkan rahmat dan berkah yang tidak ternilai ini kepada kamu?” Pemuda itu berkata, “Saya berbakti kepada kedua ayah dan ibuku”.

Nabi Sulaiman bertanya lagi, “Bagaimanakah kamu berbakti kepada orang tuamu?” Jawab pemuda itu, “Saya memelihara mereka berdua sehingga mereka lanjut usia. Kedua ayah dan ibuku adalah orang yang soleh, mereka sangat takut dan taat kepada Allah. Sejak saya kecil hingga dewasa, mereka memelihara saya dengan baik sekali, mereka juga selalu mendoakan saya agar saya menjadi seorang yang soleh. Bapa saya meninggal dunia dalam usia lanjut dalam pemeliharaan saya dan yang tinggal hanya ibu saya yang sudah tua, lemah dan sakit serta matanya buta dan kakinya lumpuh”.

Sambung pemuda itu lagi, “Saya satu-satunya orang yang merawat dan menguruskan keperluannya. Saya selalu mengangkatnya untuk mandi dan saya memandikannya. Segala urusan makan dan minum saya uruskan dan sayalah yang menyuap makanan padanya. Ibu saya selalu mendoakan supaya saya dikurniakan ketenangan dan kepuasan dalam hidup serta memberikan saya setelah wafatnya sebuah tempat yang bukan di dunia atau pun di langit. Setelah ibu saya wafat, saya berjalan-jalan di tepi laut dan saya lihat ada suatu kubah dari mutiara. Saya mendekati kubah tersebut dan pintu kubah terbuka. Apabila saya masuk ke dalam, pintu kubah ini tertutup, maka tidaklah saya ketahui sama ada saya berada di bumi atau langit”.

Nabi Sulaiman bertanya, “Kamu hidup di zaman mana?” Pemuda itu menjawab, “Saya hidup di zaman Nabi Ibrahim A.S”. Nabi Sulaiman mengirakan umur pemuda tersebut dan dalam kiraannya umur pemuda itu telah mencapai 14,000 tahun, tetapi tiada satu uban pun pada rambutnya. Nabi Sulaiman lalu bertanya, “Apakah tuan merasakan nikmat Allah? Bagaimana Allah memberikan rezeki padamu dalam kubah ini?” Pemuda itu berkata, “Setelah saya berada di dalam kubah ini, maka tahulah saya bahawa Allah telah menciptakan syurga khusus buat saya”.

Nabi Sulaiman teringin sangat melihat syurga yang pemuda itu katakan. Kemudian pemuda itu pun berdoa kepada Allah lalu susana di dalam kubah yang gelap tiba-tiba bertukar menjadi terang-benderang. Terkejut Nabi Sulaiman sambil berkata, “Maha suci Allah seru sekian alam”. Satu pemandangan yang tak ada di dunia ini terpampang di hadapan Nabi Sulaiman dan rombongannya di mana terdapat pokok-pokok, kebun yang indah, kolam air susu dan madu serta suara-suara yang merdu di dalamnya.

Pemuda itu berkata, “Jika saya lapar, saya makan bermacam-macam buah-buahan yang pelbagai macam cita rasa, semua makanan yang saya ingin akan tersedia dan kalau saya haus, akan tersedia pula bermacam-macam jenis minuman yang paling lazat”. Nabi Sulaiman bertanya lagi, “bagaimana kamu dapat mengetahui siang atau malam?” Jawab pemuda itu, “Apabila terbit fajar maka kubah ini akan menjadi putih dan apabila matahari terbenam kubah ini akan menjadi gelap”. Kata pemuda itu lagi, “Cukuplah, sebab saat ini saya harus mengadap kembali pada Allah untuk solat dan zikir, bertasbih dan menyucikan serta memuji kebesaranNya”.

Nabi Sulaiman dan rombongannya segera keluar dari kubah tersebut dan pemuda itu berdoa kepada Allah, lalu tertutuplah kembali kubah itu. Nabi Sulaiman termenung sejenak memikirkan peristiwa yang dilihatnya sebentar tadi dan mengarahkan Ashif bin Barkhiya untuk membawa kubah tersebut kembali ke dalam laut di tempat asalnya. Setelah itu Nabi Sulaiman berkata kepada rombongannya, “Untuk pertama kali aku menjumpai tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah, aku bersyukur kepada Allah dan semoga bertambah iman dalam sanubariku. Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar dan tiada daya dan kekuatan apa pun di dunia ini melainkan dengan kehendak Allah S.W.T”.


Sumber : Kitab Lubab Hadis Karangan Imam Sayuti 

KISAH SYAITAN KHANNAS DAN NABI ADAM


Syaitan sememangnya tidak pernah mengenal putus asa untuk menghancurkan anak cucu Adam. Suatu hari Iblis laknatullah membawa anaknya yang bernama Khannas menuju ke rumah Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Ketika itu, Nabi Adam AS baru saja meninggalkan rumah untuk pergi mencari nafkah. Maka tinggallah Siti Hawa keseorangan di rumah. Tiba-tiba, pintu rumahnya diketuk, lalu dibuka oleh Siti Hawa, lalu dia bertanya: “Siapa kamu?” Lalu Iblis menjawab: “Tolong jagakan anak saya, nanti saya akan datang untuk ambil dia balik.” 

Siti Hawa yang mempunyai sifat keibuan dan tidak mengetahui muslihat Iblis laknatullah terus memberi pertolongan. Apabila Nabi Adam AS pulang, baginda terperanjat lalu bertanyakan Siti Hawa: “Anak siapakah ini?” Lalu Siti Hawa menjawab: “Tak tahulah, tadi ada seorang wanita menyuruh kita menjaga anak ini.” Nabi Adam AS berfikir dan berkata: “Ini tentu anak syaitan yang mahu menganggu anak cucu kita.” “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Siti Hawa pada Nabi Adam AS. Setelah agak lama berfikir, Nabi Adam AS menjawab: “Kita potong-potong badannya sehingga kecil dan kita gantungkan daging-dagingnya di pokok luar rumah kita. Nanti apabila ibunya datang biar dia nampak dan tahulah dia anak nya sudah tidak ada.”

Keesokan pagi, Iblis pun datang lagi ketika Nabi Adam AS sudah keluar bekerja: “Mana anak aku?” tanya Iblis pada Siti Hawa. Siti Hawa pun dengan terus terang memberitahu apa yang telah meraka berdua lakukan terhadap anak syaitan tersebut: “Semalam Adam pulang ke rumah, lalu ia mengetahui yang anak itu anak syaitan, lalu kami kerat-kerat anak kamu dan kami gantungkan daging-dagingnya di atas pokok di luar sana,” jelas Siti Hawa. “Oh… benarkah?” kata Iblis laknatullah dengan selamba. Lalu Iblis menyeru anaknya: “Khannasss….!!!” Tiba-tiba daging-daging anaknya yang telah dikerat bergantungan di atas pokok itu pun bercantum kembali dan menjadi hidup kembali. Iblis masih tidak berputus asa dan masih meminta Siti Hawa agar menjaga Khannas malah dia berpesan akan kembali lagi esok harinya. 

Apabila Nabi Adam AS pulang, baginda terkejut melihat anak Syaitan yang bernama Khannas itu masih hidup dan bertanya pada Siti Hawa kenapa anak syaitan itu masih berada di rumah meraka. Hawa menerangkan apa yang berlaku. “Kita tak boleh biarkan usaha syaitan untuk menganggu hidup anak cucu kita,” kata Nabi Adam. “Apa harus kita lakukan?” tanya Siti Hawa. “Beginilah, kita bakar anak syaitan ini dan abunya kita buangkan ke laut, biar abunya di bawa arus laut, tentu ibunya tidak akan mendapat anaknya ini lagi.” terang Nabi Adam AS.

Keesokan paginya datanglah Iblis bertanyakan anaknya ketika Nabi Adam AS sudah keluar bekerja. “Mana anak aku?” tanya Iblis. “Anak kamu sudah kami bakar dan abunya kami buang ke laut!” jawab Siti Hawa. “Oh, benarkah?" kata Iblis lalu sekali lagi menyeru anaknya: “Khannas!!!” Lalu bercantumlah kembali daging anaknya dari abu, dan menjadi Khannas kembali dan kemudian diserahkan kembali pada Siti Hawa untuk dijaga.

Apabila Nabi Adam AS pulang, baginda mendapati anak syaitan itu masih juga berada di rumahnya. “Ini tak boleh jadi, kita tak boleh biarkan mereka ganggu anak cucu kita,” kata Nabi Adam. “Apa harus kita lakukan?” tanya Siti Hawa. “Begini sajalah, kita belah dua anak syaitan ini. Kamu telan sebelah, aku telan sebelah. Habis cerita!” cadang Nabi Adam AS.

Keesokan hari, datanglah lagi Iblis bertanyakan anaknya ketika Nabi Adam AS sudah keluar bekerja. “Mana anak aku?” tanya Iblis. “Kali ini kamu tak dapat balik anak kamu,” jawab Siti Hawa dengan penuh yakin. “Kenapa?” tanya Iblis. “Anak kamu telah kami telan!” jawab Siti Hawa dengan tegas. “Oh, benarkah?" Lalu Iblis memanggil anaknya: "Khannas!!!" Tiba-tiba terdengarlah suara Khannas dari dalam badan Siti Hawa. “Bagus anakku, kamu duduk di sana, jangan sesekali keluar,” Iblis memberi arahan kepada anaknya. Maka duduklah Khannas di dalam tubuh badan manusia sehingga hari kiamat. 

Syaitan Khannas ini tugasnya: Bila kita makan, dia pun makan, bila kita minum dia pun minum. Apa-apa sahaja aktiviti kita buat dia akan menyertainya jika kita tidak membaca BASMALAH (Bismillah).

Bila kita solat dia akan berusaha supaya kita berasa was-was. Sebab itulah kadang-kadang bila tengah bersolat, tiba-tiba sahaja kita lupa bilangan rakaat yang telah kita lakukan. Kadang-kadang bila buat kerja, kita keliru dan ingat-ingat lupa. Ubatnya banyakkan ISTIGHFAR (Astaghfirullah). Syaitan Khannas ini akan berlari / bermain dalam darah kita. Ubatnya ialah dengan membanyakkan ZIKIR.

Sahabat Rasulullah SAW pernah bertanya bagaimana hendak mengelak dari Khannas ini. Pesan Rasulullah SAW, setiap apa yang hendak kita lakukan mulakanlah dengan membaca BASMALAH dan doa, atau sekurang-kurangnya bacalah BASMALAH. Khannas akan berasa kelaparan bila kita berpuasa dan akan menjadi bertambah kurus bila kita makan dengan membaca Basmalah. Bagi yang sudah menjadi Suami Isteri, sebelum 'bersama', bacalah BASMALAH dan doa-doa. Jika tidak, Khannas dan syaitan-syaitan yang lain akan ikut serta 'bersama'.

SIRAH NABI : AMR BIN AL ASH PEMBEBAS MESIR


Ada tiga orang pembesar Quraisy yang sangat menyusahkan Rasulullah SAW disebabkan sengitnya perlawanan mereka terhadap dakwah beliau dan seksaan mereka terhadap sahabatnya.

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW selalu berdoa dan memohon kepada Allah agar menurunkan azabnya pada mereka. Tiba-tiba, tatkala beliau berdoa dan memohon, turunlah firman Allah: "Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka kerana sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim." (QS Ali Imran: 128)

Rasulullah SAW memahami bahwa maksud ayat itu ialah menyuruhnya agar menghentikan doa permohonan azab dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah semata. Kemungkinan, mereka tetap berada dalam teraniaya hingga akan menerima azab-Nya. Atau mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka hingga akan memperoleh rahmat kurniaan -Nya.

Amr bin Ash adalah salah satu dari ketiga orang tersebut. Allah memilihkan bagi mereka jalan untuk bertaubat dan menerima rahmat, maka ditunjuki-Nya mereka jalan untuk menganut Islam. Dan Amr bin Ash pun beralih rupa menjadi seorang Muslim pejuang, dan salah seorang panglima yang gagah berani.

Para ahli sejarah biasa menggelari Amr bin Ash sebagai “Penakluk Mesir”. Namun gelar ini tidaklah tepat, yang paling tepat untuk Amr adalah “Pembebas Mesir”. Islam membuka negeri itu bukanlah menurut pengertian yang lazim digunakan di masa modern ini, tetapi maksudnya ialah membebaskannya dari cengkaman dua kerajaan besar yang menjajah negeri ini serta rakyatnya dari perhambaan dan penindasan yang dahsyat, iaitu empire Parsi dan Rom.

Mesir sendiri, ketika pasukan tentera Islam memasuki wilayahnya, merupakan jajahan dari Rom, sementara perjuangan penduduk untuk menentangnya tidak membuahkan hasil apa-apa. Maka tatkala dari kerajaan-kerajaan itu bergema suara takbir dari pasukan-pasukan yang beriman: “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, mereka pun dengan berduyun-duyun segera menuju fajar yang baru terbit itu lalu memeluk Agama Islam yang dengannya mereka menemukan kebebasan mereka dari kekuasaan kisra maupun kaisar.

Jika demikian halnya, Amr bin Ash bersama anak buahnya tidaklah menaklukkan Mesir. Mereka hanyalah membuka jalan bagi Mesir agar dapat mencapai tujuannya dengan kebenaran dan mengikut normal dan peraturan-peraturannya dengan keadilan, serta menempatkan diri dan hakikatnya dalam cahaya kalimat-kalimat Ilahi dan dalam prinsip-prinsip Islami.

Amr bin Ash tidaklah termasuk angkatan pertama yang masuk Islam. Ia baru masuk Islam bersama Khalid bin Walid tidak lama sebelum dibebaskannya kota Makkah.

Anehnya keislamannya itu diawali dengan bimbingan Negus raja Habsyi. Sebabnya ialah kerana Negus ini kenal dan menaruh rasa hormat terhadap Amr yang sering berulang alik ke Habsyi dan mempersembahkan barang-barang berharga sebagai hadiah bagi raja. Di waktu kunjungannya yang terakhir ke negeri itu, tersebutlah berita munculnya Rasul yang menyebarkan tauhid dan akhlak mulia di tanah Arab.

Raja Habsyi itu menanyakan kepada Amr kenapa ia tak hendak beriman dan mengikutinya, padahal orang itu benar-benar utusan Allah?

“Benarkah begitu?” tanya Amr kepada Negus. 

“Benar,” jawab Negus. “Turutilah petunjukku, hai Amr dan ikutilah dia! Sungguh dan demi Allah, ia adalah di atas kebenaran dan akan mengalahkan orang-orang yang menentangnya.”

Secepatnya Amr ia mengarungi lautan kembali ke kampung halamannya, lalu mengarahkan langkahnya menuju Madinah untuk menyerahkan diri kepada Allah. Dalam perjalanan ke Madinah itu ia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah, yang juga datang dari Makkah dengan maksud hendak baiat kepada Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah melihat ketiga orang itu datang, wajahnya pun berseri-seri, lalu berkata kepada para sahabat, “Makkah telah melepas jantung-jantung hatinya kepada kita.” 

Mula-mula tampil Khalid dan mengangkat baiaat. Kemudian majulah Amr dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan baiat kepada anda, asal saja Allah mengampuni dosa-dosaku yang terdahulu.”

Maka Rasulullah menjawab, “Hai Amr, berbaiatlah, kerana Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya.”

Tatkala Rasulullah SAW wafat, Amr bin Ash sedang berada di Oman menjadi gabenornya. Dan di masa pemerintahan Umar bin Al-Khathab, jasa-jasanya dapat disaksikan dalam peperangan-peperangan di Suriah, kemudian dalam membebaskan Mesir dari penjajahan Rom.

Amr tidak hanya seorang panglima perang sebagaimana Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat lain. Ia tidak hanya seorang diplomat ulung sebagaimana Muawiyah. Tapi juga seorang negarawan yang pintar memerintah. Bahkan bentuk tubuh, cara berjalan dan bercakapnya, memberi isyarat bahwa ia diciptakan untuk menjadi amir atau penguasa. Hingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab melihatnya datang. Ia tersenyum melihat caranya berjalan itu, lalu berkata, “Tidak layak bagi Abu Abdillah untuk berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir.”

Tetapi di samping itu ia juga memiliki sifat amanah, menyebabkan Umar bin Al-Khathab seorang yang terkenal amat teliti dalam memilih gabenor menetapkannya sebagai gabenor di Palestina dan Yordania, kemudian di Mesir selama hayatnya Al-Faruq.

Amr bin Ash adalah seorang yang berfikiran tajam, cepat tangkap dan berpandangan jauh ke depan. Di samping itu ia juga seorang yang amat berani dan berkemahuan keras dan cerdik.

Pada tahun ke-43 Hijriyah, Amr bin Ash wafat di Mesir ketika menjadi gabenor di sana. Di saat-saat kepergiannya itu, ia mengemukakan riwayat hidupnya. “Pada mulanya aku ini seorang kafir, dan orang yang amat keras sekali terhadap Rasulullah SAW hingga seandainya aku meninggal pada saat itu, pastilah masuk neraka. Kemudian aku membaiat kepada Rasulullah SAW, maka tak seorang pun di antara manusia yang lebih kucintai, dan lebih mulia dalam pandangan mataku, daripada beliau. Dan seandainya aku diminta untuk melukiskannya, maka aku tidak sanggup kerana disebabkan hormatku kepadanya, aku tak kuasa menatapnya sepenuh mataku. Maka seandainya aku meninggal pada saat itu, besar harapan akan menjadi penduduk surga. Kemudian setelah itu, aku diberi ujian dengan beroleh kekuasaan begitu pun dengan hal-hal lain. Aku tidak tahu, apakah ujian itu akan membawa keuntungan bagi diriku ataupun kerugian.”

Lalu diangkatnya kepalanya ke arah langit dengan hati yang tunduk, sambil bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Pengasih, seraya berdoa, “Ya Allah, daku ini orang yang tak luput dari kesalahan, maka mohon dimaafkan. Daku tak sunyi dari kelemahan, maka mohon diberi pertolongan. Sekiranya daku tidak beroleh rahmat kurniaan-Mu, pasti celakalah nasibku.”

SIRAH NABI : NAILAH AL-FARAFISYAH ISTERI KHALIFAH UTHMAN BIN AFFAN


Dia seorang wanita yang cantik dan baik akhlaknya, isteri Khalifah Uthman bin Affan, Nailah Al-Farafisyah. Seorang isteri yang ikhlas, setia dan taat pada suami. Meskipun Nailah bukannya dari golongan wanita Quraisy malah mempunyai ayah yang menganut agama nasrani, namun dia tetap menonjol dari kalangan muslimah ketika itu kerana kelebihan kecantikkan, kebijaksanaan, kefasihan lidah serta kematangan fikirannya. Nailah hidup di rumah Khalifah Uthman dengan penuh penghormatan. 


Ketika pengepungan selama 50 hari di rumah Khalifah Uthman, orang yg tidak berengang daripada Khalifah Uthman ialah Nailah. Kaum pemberontak tidak henti-henti melempar rumah Khalifah dengan batu-batu dan panah. Tiga orang telah terbunuh. Meskipun telah membuat perjanjian bertulis kepada orang ramai supaya jangan berbuat sesuatu terhadap Khalifah, namun masih ada dua orang yang melanggar perintah itu.


Ketika pemberontak melepasi tali pagar rumah Khalifah dan memanjat dengan tali itu,Nailah menjenguk di tingkap sehingga terurai rambutnya yang ikal. Khalifah menegurnya "Nailah, tutuplah rambutmu itu dengan kain tudung, sesungguhnya rambutmu itu lebih besar nilainya padaku daripada nyawaku." Nailah sudah tidak mendengar kata-kata Khalifah, yang penting baginya ketika itu adalah melindungi suaminya.


Selepas itu 3 pimpinan Khawarij masuk di mana Ghafiqi telah memukul Sayyidina Uthman dengan besi dan menyepak al-Quran yang dibaca olehnya. Al-Quran itu terus terbuka dan tetap berada di tangan Sayyidina Uthman sehingga darah yang mengalir dari muka Sayyidina Uthman terkena ayat 137 surah al-Baqarahyang berbunyi:

………….فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم
Maksudnya :Maka cukuplah Allah bagi kamu daripada kejahatan mereka dan Dialah Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Kemudian datang pula Sudan lalu dilibas pedangnya ke arah Sayyidina Uthman tetapi isterinya Nailah menahannya sehingga pedang itu telah memutuskan jari isteri Sayyidina Uthman itu. Sudan yang hilang peri kemanusian terus menetak Sayyidina Uthman beberapa kali sehingga beliau gugur syahid. 2 anak Sayyidina Uthman iaitu Najih dan Sobih turut gugur syahid dibunuh ketika membunuh pembunuh ayah mereka. Kewafatan Sayyidina Uthman sebelum Maghrib hari Jumaat 18 Zulhijjah tahun 35 Hijrah dalam usia 83 tahun. Jasad enam orang termasuk jenazah Sayyidina Uthman dituntut daripada pemberontak pada malam tersebut manakala 3 mayat pemberontak pula dibuang di dalam kebun sehingga dimakan oleh anjing. Para muslimin begitu sedih dengan kewafatan Sayyidina Uthman dan para sahabat melaknat para pemberontak yang melakukan kekacauan dan pembunuhan kejam itu.


Berita kematian Khalifah tersebar luas. Dan peristiwa inilah yang mencetus perselisihan antara Saidina Ali dan Muawiyah yang telah mengorbankan ratusan ribu nyawa umat islam. Nailah telah menghantar sepucuk surat kepada Muawiyah yang berbunyi "Jika dua golongan dari kaum itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya. Dan jika yang satu dari keduanya melanggar perjanjian kepada yang lain, maka perangilah yang melanggar perjanjian itu sehingga mereka kembali kepada Allah."Nailah menghantar surat itu bersama pakaian Khalifah Uthman yang telah koyak dan berlumuran darah. Dia turut mengirimkan lima jari yang terpotong. Walaupun telah beberapa lama kematian suami, kesedihan tetap menyelubungi hatinya. Kesedihan Nailah tidak pernah putus sehinggalah Muawiyah meminangnya. Nailah menolak dan mematah-matahkan giginya sehingga orang lain bertanya, "Mengapakah kamu mematah-matahkan gigi mu yang cantik itu?" Lalu Nailah menjawab, "Aku tidak mahu kesedihanku pada Uthman menjadi pudar sebagaimana pudarnya kain-kain buruk dan aku tidak mahu lelaki lain mengetahui apa yang ada pada diriku, sebagaimana diketahui oleh Uthman".


Sebagai seorang sasterawan dan penyair, Nailah banyak mengubah sajak dan syair yang diabadikan buat suaminya. Dia menolak perkahwinan selepas perginya Saidina Uthman. Dia tetap setia meskipun selepas kematian Khalifah. Dialah wanita yang sanggup mengorbankan apa sahaja untuk perjuangan suaminya. 

LARI DARIPADA MALAIKAT MAUT


Kisah ini berlaku semasa zaman Nabi Sulaiman a.s. Pada suatu hari, Nabi Sulaiman bin Daud a.s mengadakan sebuah majlis keramaian dan menjemput semua rakyat baginda untuk menghadiri majlis itu. Ketika majlis itu sedang berlangsung, terdapat seorang pemuda yang sedang mengambil makanan. Tiba-tiba dia terperasan yang seseorang yang tidak dikenali sedang merenungnya dengan pandangan yang begitu tajam sekali. Pemuda itu menjadi begitu risau dan hilang selera makannya. Ketika hendak pulang ke rumah, pemuda tersebut disapa oleh tuan rumah; iaitu Nabi Sulaiman a.s. Lalu dia pun menceritakan kisahnya bertemu dengan seseorang yang memandang tajam terhadapnya. 

Lalu Nabi Sulaiman dengan tenang mengatakan bahawa itu adalah malaikat Izrail. Pemuda itu dapat merasakan bahawasanya Malaikat Maut telah datang untuk mencabut nyawanya. Lalu dia meminta Nabi Sulaiman agar menghantarnya ke sebuah pulau yang jauh lagi tidak berpenghuni dan tidak diketahui oleh seorang pun, dengan harapan Malaikat Maut tidak dapat mencarinya. Maka Nabi Sulaiman dengan kemampuannya telah mengarahkan angin untuk menghantar pemuda tersebut ke pulau yang diminta.

Apabila sampai di pulau tersebut, pemuda itu begitu gembira kerana telah berjaya lari daripada maut. Tetapi, ketika mana dia menoleh ke belakang, dia terkejut besar apabila mendapati Malaikat Maut telah tercegat di belakangnya! Dengan perasaan berputus asa, dia bertanya kepada Malaikat Izrail mengapakah dia merenungnya tajam ketika dalam majlis Nabi Sulaiman.

Maka Malaikat Izrail menjawab, sebelum dia berjumpa dengan pemuda itu di dalam majlis tersebut, Malaikat Izrail telah mendapat perintah daripada Allah ‘azza wa jalla untuk mencabut nyawa pemuda itu di sebuah pulau yang jauh dan tidak berpenghuni, iaitu di pulau yang sedang mereka berdiri ketika itu. Apabila dia bertemu dengannya dalam majlis tersebut, Malaikat Izrail menjadi begitu hairan kerana pemuda itu berada di majlis tersebut sedangkan dia ( Izrail ) dititahkan untuk mencabut nyawanya di sebuah tempat yang begitu jauh daripada tempat majlis itu berlangsung dalam masa beberapa minit lagi. 

Malaikat Izrail tertanya-tanya bagaimana mungkin pemuda itu dapat pergi ke tempat yang begitu jauh dalam masa yang cukup singkat. Namun, apabila Malaikat Izrail sampai di pulau di mana dia perlu mencabut nyawa pemuda itu, didapati pemuda tersebut telah berada di pulau itu. Maka mudahlah kerjanya. Barulah pemuda iu sedar bahawasanya Allah s. w. t. itu Maha Berkuasa dan maut itu akan meragut kita di mana jua kita berada.